Sabtu, 09 Maret 2013

Kisah TinkerBell


Film Tinkerbell menceritakan tentang kehidupan seorang peri dari Pixie Hollow yang ada di Neverland, bernama Tinkerbell, yang hidup dari tawa dan keceriaan seorang bayi. Nama Tinkerbell sendiri didapat setelah ia dianugerahi masuk kedalam klan para pengrajin/tukang (tinker) yang bertugas membuat dan memperbaiki peralatan yang digunakan oleh para peri dengan bakat alam untuk mempersiapkan musim semi di Daratan Utama (sebutan untuk dunia manusia). Namun Tinkerbell yang tidak memiliki bakat alam bermimpi untuk bisa ke Daratan Utama pada musim semi bersama peri-peri yang mempunyai bakat alam. Saat itu dimulailah pencarian jati diri Tinkerbell dalam mewujudkan mimpinya dengan mempelajari cara peri-peri berbakat alam menjalankan tugasnya seperti menebar angin, membuat embun, mengumpulkan cahaya, melukis bunga, membuat pelangi, dan sebagainya. Jelas Tinkerbell gagal. Ia frustrasi. Lalu ia terjerat masalah karena merusak semua persiapan para Peri Pixie Hollow yang akan pergi ke daratan Utama. Tinkerbell harus mempertanggungjawabkan itu semua dengan membuat alat-alat dari “The Lost Things”, sebutan untuk barang-barang asing yang berserakan di pantai Pixie Hollow, yang diduga adalah milik manusia. Tinkerbell pun sukses mempersiapkan musim semi dengan alat-alat baru yang diciptakannya sendiri. Akhirnya Tinkerbell berhasil mewujudkan mimpinya pergi ke Daratan Utama dengan tugas sebagai Tukang yang memperbaiki “The Lost Things” milik manusia.

    Mengapa coba si Peri berbaju hijau itu dinamakan Tinkerbell? Nama Tinkerbell adalah nama yang memiliki sifat Androgini. Nama Tinkerbell memiliki dua kata, “Tinker” dan “Bell”. “Tinker” berarti Tukang atau Pengrajin. Sedangkan “Bell” berarti lonceng. Pengrajin diasosiasikan sebagai profesi yang maskulin. Sedangkan kata “Bell” mengacu kepada sifat lonceng yang cenderung feminin, dan manis. Perempuan biasanya tidak diasosiasikan dengan profesi Tukang/ pengrajin. Dan kata “lonceng” memiliki “rasa” yang feminin karena biasanya digunakan untuk hiasan, pemanis ruangan, dan memiliki fungsi yang spesifik serta eksklusif. Lebih dalam lagi, sebenarnya penamaan yang memiliki karakter bertolak belakang ini menyiratkan pesan dari sang pencipta tokoh Tinkerbell agar Perempuan tidak terjebak dalam status yang melekat pada dirinya terkait dengan profesi dan pekerjaan yang dianugerahkan.
Di Pixie hollow, sebagian besar peri berjenis kelamin perempuan. Pemimpin tertinggi Pixie hollow juga perempuan. Beliau adalah Ratu Clarion. Peri laki-laki tidak banyak ditampilkan di film ini. Yang menonjol hanya Bobble dan Clank, teman laki-laki Tink sesama peri tukang/ Pengrajin, serta Terrence, Peri penjaga Danau Pixie Dust. Karena peran Perempuan disini lebih banyak jumlahnya, juga peran-peran yang dimiliki lebih tinggi dan tidak tersubordinasi oleh laki-laki.

   Pada pertengahan cerita, Tink membuat kesalahan dengan mengacaukan persiapan para peri Pixie Hollow untuk Musim Semi. Sudah jelas, ia harus mempertanggungjwabkan semuanya sendiri. Ia lalu mencari “The Lost Things”, dan menjadi komandan dalam persiapan Pixie Hollow untuk Musim Semi.  Ini adalah poin dari feminisme eksistensialis dimana perempuan menjadi objek pemikiran, pengamatan, dan pendefinisian. Dan secara otomatis, seiring berhasilnya Tinkerbell menjadi pengrajin teladan, karena mampu memperbaiki kesalahannya, maka ia berhasil melakukan transformasi sosialis masyarakat Pixie Hollow untuk mau berkenalan dengan hal-hal yang bersifat inovasi.
Penanaman Nilai-nilai Feminisme Eksistensialis kepada anak-anak sebenarnya sangat halus dan sulit dilihat apabila kita menikmati cerita dan kualitas gambarnya yang baik. Film kartun dan anak-anak adalah suatu perpaduan yang sangat kuat untuk menyuntikkan nilai-nilai pendidikan, moral, bahkan feminisme. Film dapat membantu anak-anak mengetahui hak-hak, khususnya anak perempuan, dalam menyikapi mimpi yang akan diwujudkannya kelak. Tinkerbell mewakili mimpi-mimpi indah mereka. Dan menjadi penyemangat untuk mereka.


Kesimpulannya
Film Tinkerbell memiliki nilai-nilai feminisme yang mampu merasuk kepada pikiran-pikiran anak-anak. Menurut pemahaman penulis, paham feminisme ekstensialis secara sederhana akan meningkatkan semangat anak-anak, khususnya anak-anak perempuan untuk memulai menentukan cita-citanya, dan mewujudkannya dengan kemampuannya sendiri, dan tidak perlu bantuan orang lain, apalagi laki-laki.

Terimakasih, Semoga bermanfaat :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar